- Yukiguni dan Ingatan yang Tidak Seragam Kawabata Ketika melihat nama penulis dari buku ini, ingatan saya langsung mengacu kembali pada kalimat pembuka dalam satu cerpen yang ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma, “Seperti Kawabata, aku mencintai seorang perempuan yang tidak pernah ada.” Kalimat tersebut berasal dari cerpen berjudul “Senja di Pulau Tanpa Nama” yang terdapat dalam kumpulan cerpen dari Seno Gumira Ajidarma (SGA) dengan judul “Linguae”. Kalimat ini juga tidak lepas dari sorotan Prof. Sapardi Joko Damono, dalam diskusi buku “Linguae” di Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran, pada Maret 2008 silam. Saya pikir, Kawabata itu adalah tokoh fiktif yang hanya ada dalam pikiran Seno saja. Kawabata saya asumsikan sebagai nama tokoh rekaan yang oleh penciptanya sengaja dibiarkan untuk menjalani plot dan alur cerita sehingga saya tidak terlalu concern untuk mencari tahu apa yang dimaksud dengan Kawabata itu. Dalam pembahasannya, Prof. Sapardi sebagai seorang Begawan Sastra Indonesia tidak menyebutkan bahwa yang “Kawabata” yang dimaksud SGA adalah Yasunari Kawabata, penulis asal Jepang yang meraih Nobel Sastra Tahun 1968. Prof. Sapardi menyebutkan bahwa itu adalah kebiasaan dan ciri khas Seno dalam pemilihan kata terutama dalam menamai tokohnya. Kurang lebih sama dengan pemilihan dan penggunaan nama Sukab dalam beberapa karya Seno lainnya, yang sampai saat ini masih jadi topik pembicaraan mengenai asal‐usulnya. Menurutnya, hal itu bisa saja muncul karena sudah terlanjur menjadi kebiasaan dan ciri khas dari SGA. Untuk hal ini, Prof. Sapardi merujuk cerpen lainnya menunjukkan kebiasaan SGA lainnya seperti pada cerpen dengan judul “Cintaku Jauh di Komodo”, yang juga terdapat dalam kumpulan cerpen Linguae. Judul cerpen ini mengadaptasi judul puisi Chairil Anwar, “Cintaku Jauh di Pulau”. Mungkin juga SGA sengaja memberi judul cerpen “Senja di Pulau Tanpa Nama” dengan mengadaptasi judul puisi Chairil Anwar lainnya, “Senja di Pelabuhan Kecil” Rasa penasaran terus muncul untuk membuktikan apakah ada hubungan antara ‘Kawabata’ yang pernah dituliskan SGA dengan Kawabata yang menulis Yukiguni (Snow Country) ini. Ingatan saya terus berpacu sehingga mempengaruhi keputusan untuk mencari tahu apakah ‘Kawabata’ yang dimaksudkan oleh SGA dan pernah dibahas oleh Prof. Sapardi Djoko Damono itu adalah penulisnya yang bukunya ada dihadapan saya. Yukiguni Membaca Yukiguni ibarat berjalan‐jalan menapaki alam pegunungan di musim dingin yang bersalju. Bahasa yang digunakan Kawabata dalam bercerita ibarat angin dari gunung yang turun perlahan. Sebuah bahasa seperti puisi Haiku yang mengalir. Imaji tentang suatu keindahan alam pegunungan di musim dingin tercipta dalam setiap detail cerita. Shimamura, yang sering melakukan perjalanan ke daerah pegunungan bertemu dengan Komako, seorang geisha yang jatuh cinta padanya sejak pertama bertemu. Shimamura yang telah menikah tahu bahwa Komako memang mencintainya. Tetapi, ia tidak begitu yakin atas hal itu. Apalagi, sejak Shimamura bertemu dengan Yoko. Yoko telah memberinya suatu perasaan yang tidak biasa sejak
- Shimamura menatap kedua matanya. Shimamura dan Komako mencoba mencari pembenaran atas cinta mereka. Sayangnya, hal itu telah gagal sejak mereka pertama kali bertemu. Pembawaan cerita yang mengangkat kehidupan tradisional masyarakat Jepang pasca Restorasi Meiji menjadikan novel ini memiliki kelebihan tersendiri. Bahasa penyampaian (secara terjemahan) lebih merupakan rangkaian kata‐kata serupa yang menyusun keindahan bahasa Haiku. Secara tidak langsung, keindahan bahasa ini ikut memberikan ragam tersendiri kepada penceritaan. Bagi beberapa kalangan pembaca justru hal seperti ini malah memberikan kesan yang kurang baik. Ada yang beranggapan bahwa dengan ditampilkannya keindahan semacam ini rasanya seperti menonton film tahun 1950‐an. Ditambah lagi dengan ending yang menggantung dengan tidak adanya deskripsi tentang kehidupan Yoko, apakah akan berakhir dengan tragis atau bahagia. Hal lainnya dari buku ini adalah Kawabata berhasil mengangkat isu tentang keteguhan seorang perempuan. Keteguhan seorang Komako untuk mencintai Shimamura yang telah beristri tapi juga punya sedikit perasaan untuknya. Betapa pun Komako mencintai Shimamura, Komako berhasil untuk tidak memaksakan cintanya pada Shimamura. Ini sebagai bukti bahwa kekuatan cinta kaum perempuan memang mengagumkan seperti kuku manusia, yang berkali‐kali terpatahkan namun perlahan selalu tumbuh kembali. Hadiah Nobel Sastra Perdebatan mengenai ketentuan dalam penilaian karya‐karya sastra masih mengemuka ketika Yukiguni ditetapkan sebagai pemenang Hadiah Nobel Sastra. Seringkali, terjadi batasan dalam hal “continental literatures” atau karya‐karya sastra dari belahan benua dan negara tertentu sehingga menghilangkan karakter “The Literature of The Whole World”. Yukiguni yang notabene berasal dari Asia dan terlebih lagi dari Negara non‐Eropa telah berhasil membuktikan penerimaan para ahli sastra di Barat terhadap karya Sastra Timur yang pada masa itu didominasi oleh karya sastra yang cenderung Eurosentris. Bagaimanapun, bila hal itu sampai terjadi maka dikhawatirkan Hadiah Nobel Sastra akan dipolitisasi untuk kepentingan‐kepentingan tertentu dari beberapa pihak saja. Hadiah Nobel Sastra tahun 1968 yang diberikan pada Yasunari Kawabata menggambarkan pengecualian dalam beberapa kesulitan atau hambatan untuk melakukan penilaian terhadap karya sastra yang berbahasa Non‐Eropa. Perlu 7 tahun dan empat orang ahli linguistik internasional untuk melakukan penilaian terhadap Yukiguni demi mencapai “a global distribution” yang perlu dilakukan pada ukuran‐ukuran yang memperkuat kompetensi dalam penilaian sastra secara internasional. Kriteria penilaian Nobel Prize for Literature yang ikut memenangkan Yukiguni sebagai penerima hadiah Nobel adalah dari sisi linguistik. Bahasa penceritaan yang merupakan susunan Haiku berbentuk novel telah memberikan keindahan tersendiri. Suatu keindahan yang hanya dimiliki oleh Haiku saja. Barangkali, selain karya‐karya Haiku terkenal dari Matsuo Basho, hal itu pula yang ikut memberikan inspirasi bagi Hermann van Rompuy, Presiden pertama Uni Eropa asal Jerman, yang dikenal dengan sebutan lain “Haiku Hermann” setelah ia berhasil menerbitkan karya Haiku pertamanya. Dengan adanya hal tersebut, perlu dikaji lebih jauh, apakah Haiku di Eropa berkembang setelah Yukiguni resmi dinyatakan sebagai penerima Hadiah Nobel Sastra 1968 atau malah Haiku sudah berkembang jauh sebelum tahun 1968.
- Sekedar Bacaan “Aku Ini Binatang Jalang”, Chairil Anwar, Gramedia Pustaka Utama, 2005 “Aku Kesepian Sayang, Datanglah Menjelang Kematian”, Seno Gumira Ajidarma, Gramedia Pustaka Utama, 2004 “Linguae”, Seno Gumira Ajidarma, Gramedia Pustaka Utama, 2007 “Snow Country”, Yasunari Kawabata, Gagasmedia, 2009 Paninggilan, 10 Mei 2010, 23.04
Sabtu, 06 November 2010
D'YuK!9uNi
Diposting oleh kogarasumaru di 02.00
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar